Kamis, 24 Mei 2012
Senin, 14 Mei 2012
“BAGUS” yang terbaik di antara bagus-bagus di dunia ini
Biarlah kami yang mencarinya sendiri. . .
Tunggu & bersabarlah duhai HAWA. . .
Tak perlu engkau yang mencari ADAM.
Karena engkau tetap tulang rusuk yang hilang. . .
Dia kan datang mencarimu & mengambilmu suatu hari nanti. . .
Yang kau usahakan wahai HAWA hanyalah,
Berdoa agar ADAM yang datang adalah ADAM yang beragama, beriman & memiiki Akhlag yang baik
Yang dapat membimbingmu ke jalan yang lurus untuk ke SURGA-NYA...”
__________________________________________________
| Reaksi: |
Kamis, 23 Februari 2012
Seperti Tak Ada Oksigen Di Sekitarku
Aku Endah, seorang penggemar edelweis, yang berharap suatu saat bisa menemui sang “pujaan” di atas gunung.
Semakin tau tentang edelweis aku semakin menggilainya. Bunga Cinta Abadi. Warnanya yang putih melambangkan kesucian. Aku selalu menganggap diriku adalah sosok edelweis, manusia edelweis, meskipun aku sama sekali bukanlah manusia suci. Aku pun punya cinta. Seperti cinta ratu salju gunung terhadap seorang pendaki dalam dongeng asal-usul edelweis [cieeeeeeee]. Namun sepertinya orang lain [orang yang pernah dekat denganku] pasti menganggap cintaku tidak setulus peri itu. Cintaku hanya aku yang tau. Aku yang merasakannya. . :)
Lalu, apakah aku pantas menganggap diriku adalah seorang edelweis?
Bagiku edelweis juga melambangkan kekuatan, ketegaran. Hidup dalam kesendirian, dalam dunia yang terasingkan di atas sana. Hanya orang-orang hebat dan kuat yang mampu melihat “istananya”. Ya, benar, para pendaki gunung!
Apakah aku seperti itu? Jawabannya TIDAK. Lebih tepatnya BELUM. Dan aku ingin seperti itu, seperti edelweis.
Ingin sekali rasanya melihatmu, edelweis. Sanggup kah? Aku memiliki penyakit mematikan dalam paru-paruku. Bahkan saat ini aku merasa seperti tak ada oksigen di sekitarku. Terasa menyakitkan ketika aku menarik nafas dalam-dalam. Lemahnya aku. Edelweis saja mampu bertahan di ketinggian dengan kadar oksigen lebih tipis, masak aku tidak bisa? Aku harus bisa! Meskipun kata dokter aku tidak bisa sembuh, aku harus tetap bangkit, hingga aku mampu bertahan, membahagiakan orang-orang sekitarku, membuat para pendaki tersenyum lebar melihat “aku”.
Aku ingin sekali mendaki. Namun apa mampuku. Sekarang aku masih lemah.
Dalam bayanganku, edelweis adalah tumbuhan tercantik di antara tumbuhan gunung yang lain. Aku tak secantik edelweis, tapi aku sadar, aku cantik ketika aku tersenyum dan bangkit dari keterpurukanku.
Suatu saat “edelweis” akan mampu berada di tempat yang “tinggi”. Tempat dimana aku meraih kesuksesan. Tempat dimana aku bertemu dengan orang-orang hebat. Dan aku akan meninggal dalam keadaan terhormat.
Hey, kamu, penyakit! Saat ini kau boleh mengambil oksigen di sekitarku, tapi kau tidak akan bisa mengambil harapanku, cita-citaku! Kau tidak akan mampu melemahkan kuatnya “edelweis”
| Reaksi: |
Jumat, 17 Februari 2012
Pedang [apa Golok ya?] Pembunuh Naga
Emmmm,, msh inget nggak? Duluuuuuuu banget [skitar aku masii SD], taon berapa ya, 2000an lah, ada film mandarin tentang kungfu2 gitu deh. Judulnya “Pedang Pembunuh Naga” kalo ngga salah. Ehh, PEDANG apa GOLOK ya? Apa aja deh yang penting bisa NGEBUNUH tuh NAGA!!
Ceritanya lupa :D, tapi yang mau aku share lagunya itu lhoo, yang nggak bakal aku lupain. Baguuuuuuussss banget. Dulu aku pas kelas 6 SD sering banget nyanyiin sama temen sebangkukuu [duet sahabat, wkwkwk] ---emmm, suara temenku keren, jadi inget sama dia, sedanga apa ya dia sekarang? Halah, nglantur deh!--- kembali ke jalan yang benar, liriknya kayak gini neh kalo nggak salah n_n
___________________________________
Di saat malam yang sunyi
Kutermenung seorang diri
Teringat paras wajahmu
Bergetar rasanya hatiku
Tak mungkin kulupakan dirimu
Tak mungkin pula kupendam cintaku
Kapankah kita akan bertemu
Entah kapan kita berjumpa
Cinta abadiku
Harapan dariku
Kita dapat bersama
________________________________
Huhuhu. . . jadi inget temenku lagi. . Pengen duet lagi. . tuing-tuing. . . kumat deh!
Btw, liriknya pas banget sama yang lagi kasmaran, bahasa 2011-2012nya sih GALAU. . hmmmm. . . ;)
Kalo mau liad di youtube coba deh klik
selamat menontoooon ^_^
sebenernya sih ada yang versi cina gitu deh,, tapi kaga' ngarti >.<
| Reaksi: |
Jumat, 06 November 2009
Edelweiss - Bunga Cinta Abadi
Mungkin kebanyakan orang lebih memilih warna merah atau pink, karena katanya itu melambangkan cinta. hmm.. tapi menurut buku, “cinta si merah” itu kesannya terlalu sensual dan emosional. Berbeda dengan “cinta si putih”, --di balik kesederhanaannya…warna putih itu melambangkan ketulusan dan kesucian.
Kalau diperhatikan, mawar putih, lily putih, tulip putih, anggrek putih, kamboja putih, melati putih, semuanya selalu cantik dan manis dipandang. Sayangnya ga berapa lama bunga-bunga itu akhirnya layu juga. Tapi ada satu bunga putih yg kecantikannya abadi, walaupun ga secantik mawar atau seharum melati, yupz!! kita semua tahu namanya bunga Edelweiss.
Kalo ga salah bunga ini diambil dari bahasa Jerman, edel = noble (mulia), weiss = white (putih). Dari namanya, bunga ini melambangkan keagungan, kesucian, keabadian. Selain cantik, bunga imut-imut ini juga terjaga di puncak gunung, limited edition, sulit didapatkan orang, cuma pendaki-pendaki tangguh aja yg bisa liat bunga ini, sayang yaa udah jauh-jauh cuma bisa diliat doang.. Kalo mau petik kudu lapor dulu sama polisi hutan, beribet juga prosedurnya (biar halal), kecuali kalo maksa petik, haram bo! sama aja kaya nyuri mangga tetangga, hehehe.
Pernah baca di novel “2 love” kalo bunga edelweiss ini ada dongengnya juga, semacam dongeng Putri Salju, dongeng cewe banget gitu, melankolis-melankolis gitu deh. Katanya, bunga edelweiss itu bunganya peri salju / peri gunung. Once upon a time, ada kerajaan di puncak gunung yg dijaga oleh peri-peri salju, di sana terdapat istana yg dihuni oleh seorang Ratu Salju. Suatu hari, ada seorang pendaki (ganteng kayanya) yg sampai di istana itu dan bertemu dengan Ratu Salju hingga akhirnya keduanya saling jatuh cinta (duh, malu!! hihihi), akan tetapi peri-peri penjaga istana itu iri pada sang pendaki yg mendapatkan hati sang Ratu, sehingga segala macam cara dilakukan agar pendaki itu menjauh dari istana, tanpa sepengetahuan sang Ratu. Namun pendaki itu tetap tangguh berjuang sampai akhirnya dia terjatuh ke lembah jauh-jauh dari istana karena peri-peri salju itu. Sang Ratu Salju ga mengerti apa kesalahannya sampai pendaki itu pergi, dia sedih sampai akhirnya tahu kalo pendaki itu sudah menikah dengan seorang gadis kampung biasa.
Tanpa disadari, kesedihannya itu terlalu mendalam karena merasa dikhianati.. ia terus menangis dan menangis sampai tak terasa tiap tetesan air matanya berubah menjadi bulir-bulir kecil bunga yg cantik, bunga yg tak pernah layu, selalu abadi, seabadi “rasa” sang Ratu Salju pada sang pendaki.. rasa cinta dan mungkin rasa kecewanya.. Bunga itulah yang kita kenal dengan bunga Edelweiss.
(disadur dari facebookgroup LESTARIKAN EDELWEISS (BUNGA CINTA ABADI)
| Reaksi: |